Ahad, 1 Februari 2009

sajak kehidupan

andai hari ini terakhir buat diriku

andai hari ini terakhir buat diriku
ampunkanlah segala dosa-dosaku yang lalu
agar semadinya aku dalam keimanan
dilandasan kasihmu tuhan
yang tiada berpenghujung
andai hari ini terakhir buat diriku
akan kuhabisi saat-saat yang tinggal
hanya menghadap tuhan yang Satu
agar gugurnya dosa yang lalu
bagai dedaunan kering berguguran
andai hari ini terakhir buat diriku
janganlah ditangisi takdir itu
kerna tangisan itu tidak mengembalikan diriku lagi
dan ingatlah
setiap yang hidup pasti akan menemui mati
itulah janji yang ESA pada ummatnya
andai hari ini terakhir buat diriku
hanya kenangan sajalah yang tinggal
kenanagan yang diukir bersama semua
biarlah kenangan it uterus segar
disetiap ingatan insane yang mengenaliku

sajak cinta

Indahnya sebuah pertemuan

Setiap hubungan akan
Bermula dengan sebuah pertemuan
Disulami dengan seribu kenangan
Diakhiri dengan setiap pandangan
Dan
Diakhiri dengan sebuah jalinan
Pertemuan itu amat indah
Sukar dilupakan dalam ingatan
Sekadar dihilangkan dari pandangan
Tersulam diriku dengan keindahan
Pertemuan ini bukan sekadar pertemuan
Pertemuan ini menemui kebahagian
Kebahagian perjalanan hidup insani
Menjadi sempurna didalam diri
Kehadiran yang hadir dalam sekelip mata
Kehidupan yang menjadi diri insani
Terkubur sudah didalam hati

sajak kehidupan

Desa kelahiranku

didesa itulah aku dibesarkan
kuala merotai nama keramat
tempat aku mengukir nama
disekolah kecil yang tak kering ilmu
didesa itu tiada siapa yang tidak mengenaliku
tiada siapa tidak pernah menemui ku
didesa itulah menjadi rumah jua syurga bagiku
didesa itu aku banyak melihat
setiap gambaran keperitan kehidupan
walau susah payah setiap hari yang dilalui
tetap juga dilalui dengan berbekalkan kesabaran
demi mencari sesuap nasi
untuk anak-anak dan isteri
didesa itu aku belajar merangkak
didesa itu aku belajar berkata-kata
didesa itu juga aku belajar ertinya kasih
yang tiada berbelah bagi
kehidupan didesa itu membuat
semangatku membara menyala
laksana api marak membakar
setiap yang kulalui didesa itu
tersemat dalam dairi hidupku
segala pahit manis masih segar dalam ingatan
walaupun lorong-lorong kulalui dulu
telah berubah wajah tidak seperti waktu itu

sajak cinta

Gadis dipersimpangan

Dipersimpangan yang kulalui setiap waktu
Terlihat seorang gadis berwajah ayu
Bak bidadari dari kayangan
Membuat aku terpesona dengan lirikannya
Aku tercegat seketika
Apakah aku terpukau dalam dunia khayalan
Ataukah semua itu mainan perasaanku
Dia senyum memandangku
Hatiku berdebar-debar
saat dia menyapaku dari belakang
ohh…aku bagai dialam fantasi
yang penuh ilusi tragis cinta semalam
apakah yang ingin dikatakannya padaku
aku tertunggu-tunggu
hati kecil berbisik dengan segan
katakanlah kau cinta padaku

sajak alam

Hijau

Diwaktu senja nan lalu
Gemersik cengkerik berlagu riang
sahutan melodi unggas
mengiringi kemerduan siulan sirama-rama
bagai kesyahduan syair sipujangga cinta
namun
kini semuanya diam membisu
bagaikan sang siput pemalu
akibat hilangnya warna-warna kehijauan
kehijauan flora yang dulunya
menjadi tempat bermain penghuni hutan
bumi yang dulu dipenuhi kehijauan
kini tinggal ketandusan
tanda sedikit pun kehijauan
kerakusan dan ketamakan
menjadi raja dihati
meracuni hati suci dengan
menzalimi keindahan alam
tanpa kehijauan flora apalah ertinya bimi?
Tanpa kehijauan flora apalah nasib sipenghuni hutan?
Berfikirlah wahai semua
Cintailah khazanah alam
Ketahuilah bahawa kehijauan flora adalah
Anugerah yang sangat bernilai untuk kehidupan
Tanpa flora siapalah kita dimata dunia
Tanpa flora hilanglah suara keriangan fauna

sajak kehidupan

kekejaman demi kekejaman

Waktu itu disinilah mereka bermain riang
Bersama rakan-rakan juga keluarga
Tidak pernah lekang kegembiraan diraut wajah
Hingga tidak terkata kegembiraan itu
Namun
Kini semuanya berubah
Kegembiraan yang dulunya kini
Bertukar menjadi tangisan kesedihan
Kesedihan yang bersulam keperitan
Langkah yang dulunya cergas
Kini lemah tidak bermaya
Bagai kuda kehausan dipadang pasir
Mata yang dulunya hanya melihat kehijauan alam
Dan kemegahan bangunan pencakar langit
Kini dihiasi dengan kemerahan
Bumi yang dibasahi darah insan tidak berdosa
Dan kehancuran bangunan keangungan Gaza
Pipi yang dulunya dihambat kemarau tangisan
Kini dibanjiri kesedihan tidak bersudah
Akibat kekejaman rejim zionis
Yang tiada perikemanusiaan
Menindas setiap warga Gaza
Tanpa mengenal usia mahupun jantina
Saban hari suara tangisan tiada hentinya
Disetiap sudut bumi Gaza ada saja melodi itu
Meraung kesakitan meminta bantuan
Peluru-peluru kekejaman zionis
Tidak penat membedil rakyat Gaza
Bagai hujan tiada hentinya
Rakyat Gaza dibelenggu ketakutan demi ketakutan
Namun atas keyakinan yang kuat terhadap
Tuhan yang esa mereka bangun
Dan memohon agar rejim zionis menerima balasannya

sajak cinta


Rintihan seorang kekasih

Saat seorang insan yang kau cintai dulu memerlukanmu
Kau meninggalkannya tanpa rasa bersalah
Membuatkan hati kecilnya menangis ditirai kekecewaan
Hatinya remuk bagai digilis mentari panas
Sakitnya bukan kepalang
Namun dirimu tak mungkin merasa semua itu
Mengapa kau ungkapkan kata sayang?
Mengapa kau lafazkan kata cinta?
Jika akhirnya kau meninggalkannya
Tanpa menoleh lagi kebelakang
Apakah kata-kata itu hanya lawak jenaka bagimu?
Apakah lafaz cinta itu sekadar hiasan wadah bicaramu?
Sanggupnya dirimu menghancurkan mahligai cinta yang dia bina untukmu
Mana perginya hati tulusmu dulu?
Yang seringkali membahagiakan dirinya
Mengapa kini timbul kebencian dihatimu
Sehinggakan kau meninggalkan dia dalam kesakitan
Mengapa kau lupakan segala janji-janjimu dulu
Yang kau sematkan bersamanya
Mengapa ianya kau lupakan
Dan sanggup kau menduakannya
Mengapa?
Mengapa?


sajak cinta

Kepahitan mencemer gembira

Saat ku gembira bersamamu
Banyak yang kita kongsi bersama
Kau senyum ku gembira
Kau sedih ku menangis
Itu rasa yang kita kongsi bersama
Namun
Segalanya palsu belaka
Kau meningalkan ku
Tanpa merasa aku manusia
Yang punya perasaan sama seperti mu
Saat itu tinggallah aku sendirian
Sedih tidak berteman
Kegembiraanku hilang
Meninggalkan ku pergi
Tiada khabar berita
Ku tak sangka ini kau beri padaku
Setelah aku cipta segalanya buatmu
Kau siram racun diperigi cinta kita
Yang dulunya madu manis belaka
Aku sedih hampa menerima semua ini